Selasa, 30 April 2013

Tradition and Ritual - Part II

Traditions and Rituals Two (Finished)

Iced Tea
Es teh pertama diperkenalkan pada tahun 1904 di St. Louis World’s Fair. Seorang penjual teh bernama Richard Blechynden mencoba untuk memperkenalkan teh hitam dari India, tetapi karena perayaan itu berlangsung di musim panas, makan tidak ada yang menginginkan tehnya. Akhirnya Richard mencoba dengan mengalirkan teh yang sudah jadi melalui sebuah pipa es sehingga dihasilkan teh yang dingin. Sejak saat itu es teh menjadi favorit orang-orang Amerika.

Liquid Vegetable of Gaucho
Yerba Mate (Ilex paraguariensis) adalah sebuah pohon kecil yang tumbuh di dataran tinggi di Brazil, Paraguay, Uruguay, dan Argentina. Di Amerika Selatan, daunnya dimasukkan ke dalam air pada labu kuning kering dan dihirup dengan sedotan berfilter yang disebut bombilla. Seduhan sehat ini dianggap sebagai minuman pada dewa oleh orang-orang di Amerika Selatan dan merupakan minuman pokok dari diet para peternak, atau ‘gauchos’, merupakan makanan yang dapat digunakan untuk bertahan pada kerasnya kehidupan di sana. Secara tradisional, mate diminum bersama teman dekat atau keluarga. Labu dan bombilla diisi dan diedarkan secara terus menerus untuk merayakan persahabatan.

Earl Grey Tea
Earl Grey tradisional merupakan campuran dari teh hitam dengan bergamot. Saat ini earl grey diasosiasikan dengan semua jenis teh yang dicampur dengan bergamot. Bergamot adalah jeruk kecil dari Vietnam Selatan yang merupakan perpaduan dari lemon manis, Citrus limetta dan jeruk asam, C. Aurantium. Minyak dari kulit jeruk inilah yang memberikan rasa khas pada Earl Grey.
Nama Earl Grey diambil dari nama seorang perdana menteri Inggris, Lord Charles Grey kedua, dari tahun 1830 an yang pertama kali mempopulerkan teh ini. Charles menerima resep teh ini dari seorang utusan China dan menyerahkannya kepada ‘rumah teh’ Jacksons of Piccadilly.

Pu-erh
Pu-erh hanya diproduksi di China dengan rahasia yang dijaga ketat. Setiap kebun teh memiliki resep dan citarasanya masing-masing. Pu-erh sebenarnya merupakan enzim di dalam teh yang dibiarkan menua, sehingga meningkatkan rasa teh itu sendiri seiring dengan berlalunya waktu. Ini dapat dilakukan dengan memberikan sedikit uap air pada tahap akhir pemrosesan dan membiarkan daun teh menyimpan uap air tersebut kemudian daun teh ‘dituakan’ pada lingkungan yang dikontrol. Qing Cha atau pu-erh hijau merupakan pu-erh tertua dan terpopuler. Shu Cha merupakan akselerasi dari Qing Cha yang dikembangkan pada tahun 1972 untuk memenuhi pesanan. Keduanya menciptakan teh yang nilai dan rasanya semakin meningkat seiring bertambahnya waktu. Pu-erh yang berusia 10, 15, atau 25 tahun hanya ada di China dan dihidangkan untuk orang-orang penting saja.

Lung Ching Lore
Pada jaman dahulu kala, ada seorang perempuan tua yang hidup dekat sebuah sumur. Tumbuhlah delapan belas pohon teh liar yang biasanya tumbuh di daerah pegunungan di dekat rumah dan sumur itu. Rumahnya terletak di bagian jalan yang sering dilalui oleh petani Nan Shan yang ingin menuju ke Xi’Hu. Ketika para pengelana melewati rumahnya, mereka selalu ingin beristirahat di sana, sehingga perempuan tua itupun mengeluarkan sebuah meja dan kursi kayu panjang untuk mereka. Pada saat yang sama, dia berpikir bahwa dia bisa menggunakan daun teh liar dan air dari dalam sumur untuk menyeduh teh.  Ini akan menjadi tempat yang pas untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Xi’Hu.
Pada suatu musim dingin, hanya beberapa hari sebelum tahun baru, ketika salju sedang turun dan menumpuk semakin dalam, dan pohon teh liar yang ada di sekitarnya akan membeku dan mati, ada banyak sekali pengelana yang menuju Xi’Hu untuk membeli hadiah tahun baru. Meskipun dingin, orang-orang ini masih tetap berhenti di depan rumah perempuan tua itu. Seorang pria tua langsung bertanya ketika melihat perempuan tua itu, “Nenek, apakah kau telah membeli sesuatu untuk tahun baru?” Si perempuan tua mendesah dan menjawab bahwa dia tidak bisa membeli apapun, dia hanya memiliki beberapa pohon teh liar yang akan mati karena kedinginan dan tahun depan dia bahkan tidak akan bisa memberikan teh lagi. “Itu adalah barang paling berharga bagimu. Tapi sekarang sudah tidak berguna lagi, kau hanya bisa mendapatkan untung dari menjualnya,” kata pria tua itu sambil menunjuk mortir yang biasa digunakan untuk membuat teh. Perempuan itu menjawab bahwa mortir tersebut semakin baik ketika umurnya bertambah, apabila ia mencucinya saat ini maka mortir tersebut tidak akan ada harganya, sebuah mortir yang rusak tidak akan pernah terjual dan dia hanya mau menjaganya untuk masa mendatang.
Pria tua itu mengeluarkan sepuluh keping perak dari dalam mortir dan menawarkannya kepada perempuan tua itu, tetapi perempuan tua itu tidak berani menerimanya. Ketika dia berbalik, si pria tua sudah menghilang, jadi dia tidak memiliki pilihan lain kecuali menyimpan uangnya. Setahun berlalu, dan di saat musim semi kedua, pucuk dan daun baru tumbuh di kedelapanbelas pohon teh liarnya, dan pohon itu tumbuh semakin baik dari tahun-tahun sebelumnya. Yang lebih ajaib lagi, setiap kali dia memercikkan air dari mortir tuanya, pohon teh akan tumbuh dan tak lama kemudian, pohon tehnya pun semakin bertambah. Karena itu, perempuan tua tersebut mampu untuk terus menyeduhkan teh bagi pengelana yang lewat. Inilah asal muasal dari teh Dragonwell Lung Ching.
Dikatakan bahwa si pria tua adalah roh dari orang yang menikmati teh yang diberikan oleh perempuan tua itu. Menyadari bahwa perempuan tua itu berada dalam masalah, dia memutuskan untuk menguji dedikasi si perempuan tua terhadap teh. Karena perempuan itu setia dan yakin pada caranya menyeduh serta perduli pada mortir dan pohon teh yang membuat bisnisnya dapat berjalan, dia pun meninggalkan cukup uang agar si perempuan tua dapat melewati musim dingin yang sulit, dan memberkati mortirnya dengan kemampuan untuk menumbuhkan pohon teh.

Gunpowder Green Tea
Gunpowder Green Tea adalah teh yang berasal dari propinsi Zhejiang di China sejak dinasti Tang (618 – 907 CE). Daun teh digulung menjadi bola-bola kecil untuk menjaganya selama penyimpanan maupun saat dipindahkan, serta membantu mempertahankan rasa tehnya sendiri. Secara tradisional, daun teh ini digulung menggunakan tangan, dan pada varietas dengan kualitas tertinggi masih dilakukan seperti itu. Meskipun demikian, kebanyakan gunpowder green tea yang dijual saat ini digulung menggunakan mesin. Dalam beberapa kesempatan, gesekan antara mesin penggulung dan daun teh akan memanaskan daun teh dan meningkatkan rasanya serta memberikan kualitas seperti daun yang dipanggang.
Beberapa kemungkinan asal nama gunpowder adalah:
1.       Daun teh yang digulung berbentuk seperti bubuk senjata pada saat itu,
2.       Daun teh akan ‘meledak’ ketika diseduh dengan air panas,
3.       Teh ini memiliki rasa smoky .

Ti Kuan Yin Lore
Menurut sejarah, nama Ti Kuan Yin berasal dari Kaisar Dinasti Qing yang sakit dan tidak dapat diobati. Suatu hari, seorang penasihat dari daerah Fujian meminum oolong tea yang berasal dari daerahnya bersama sang Kaisar. Secara ajaib, kaisar itu pun sembuh. Karena itu, sang kaisar menamai teh yang dibawa penasihatnya sebagai teh Ti Kuan Yin yang dapat diartikan sebagai “Iron Goddess of Mercy”. Sang kaisar mengatakan bahwa daun teh yang digulung secara ketat dan dibakar menyerupai besi dan mempunyai kemampuan menyembuhkan dari Dewi Rahmat pada ajaran Budha yang disebut Dewi Kuan Yin.
Sumber :  http://www.arborteas.com/pages/traditions.html