Sabtu, 19 Oktober 2013

Wedding, game over or happy ever after?

Keinginan kecilku membawa kita pada diskusi yang menarik..

Di salah satu restoran jepang di daerah blok M, dengan ditemani sate jepang, hot pot, pancake jepang, dan beberapa makanan yang aku tidak tau namanya, serta sake (yg rasanya seperti tape / peuyeum bandung), bir, dan jus untuk diriku sendiri, pembicaraan kita bergeser ketika salah satu temanku mengungkapkan keinginan kecilku untuk menikah di usia tertentu.

Waktu itu terucap, pertanyaan yang timbul adalah "How long have you been dating?"
Yang aku jawab dengan "No, I don't have any boyfriend. It just my wish."
Dan kita semua tertawa.

Tak lama kemudian, kau membuka kemejamu, dan menampakkan T-shirt bergambar pasangan dengan wedding dress on them with "game over" below it.
Yang disambut dengan pertanyaan dariku "why you use that? What is the meaning of game over? Don't you believe in happy ever after?"
"If I married, then I don't have any freedom. I have to tell her where I am, when I will go home, what I do, everything." jawabmu
"But, you learn to compromise," bantahku
"Yes. That's why I still single," jawabmu sambil tertawa

Perkataanmu membuatku berpikir.
Benarkah pernikahan hanya akan membatasi kebebasanmu?
Bukankah pernikahan berarti berbagi?
Baik susah maupun senang, sakit maupun sehat?
Mungkin memang sebagian kebebasanmu akan hilang, tapi aku pikir itu akan tergantikan dengan adanya seseorang di sisimu, seseorang yang benar-benar peduli dan mau menerimamu apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu.